Home > Kata Hati & Jejak Langkah > Mama dan nak bujang Part-14: “sunat rasul”

Mama dan nak bujang Part-14: “sunat rasul”

CS…

Libur naik kelas 4 atau 5, lupa persisnya, mama sudah rencanakan untuk saya “sunat rasul” atau khitan. Di kampung kami tidak ada budaya menjadikan khitan hari khusus layaknya di daerah lain, cuma memang direncakan pas libur sekolah.

Mama kasih dua pilihan, “abang mau sunat sama pak Mantri, disuntik dan dijahit cepat sembuh, atau dengan Pak Wo, agak lama sembuhnya”, waktu itu mama memberi opsi, belum selesai mama menjelaskan saya sudah sambar “Pak Wo ma.. !”, karena begitu traumanya sama pak Mantri dan jarum suntik.

Pak Wo Dalin, suami dari kakak sepupu mama, Anak Nek Uwo, kakak nenek. Memang dikenal dengan dukun “sunat” di kampung kami, punya ramuan pengobatan luka yang entah dari apa tapi sangat ampuh. Beliau sayang dan dekat dengan saya karna beberapa hal, terutama karna saya sekolah. Kadang pas libur-libur sekolah saya suka diajak ke Ladang beliau di bukit “punduang”, menangkap burung, landak bahkan biawak (kadal). Saya juga dekat dengan anak-anak beliau, terutama Uni kami yang tertua, Uni Dalias (almarhum). Pak Wo Dalin juga mengantarkan saya ke gerbang perkawinan yang merupakan momen terakhir saya bersama beliau, sebelum beliau akhirnya kembali ke haribanNYA.

Saya dan sepupu saya, CS saya, anak Mak Wo bawah kakak Papa, Ii Boy, sudah sepakat untuk sunat bersamaan. Dan sudah sepakat juga kita sunat dengan dukun kampung bukan dengan Pak Mantri, dengan satu alasan yang sama, takut jarum suntik. Dan di hari yang sama juga.

Momen-momen sebelum sunat ini cukup mengerikan. Pernah nonton serial kartun Upin-Ipin pas seri khitan? Ingat Bagaimana Mail menceritakan kisahnya yang dibuat-buat dan hyperbola sampai-sampai Fizi ketakutan? Ya, kira-kira seperti itu suasananya. Ada yang bercerita, “nanti dipotongnya dengan kampak berkarat, salah tebas dukunnya, “habis” semua”. Ada juga yang bilang “potongnya pakai gunting kain, kalau gunting tidak tajam, melipat, uoh sakitnya luar biasa, beribu kali dari sakit kejepit resleting”, saya menenggak air liur membayangkannya, karna pengalaman terjepit reselting benar adanya, sakitnya ampun. 😄

Ada juga yang bilang, “potongnya pakai “sembilu”, kulit bambu, yang pas digesekkan kedengeran sreetnya”, anak kecil yang lugu mentah seperti saya bergidik kalau dengar ini. Tapi mama bilang, “dak ada itu, rasanya kayak digigit semut aja”.

Akhirnya pada hari H, saya di suruh Pak Wo untuk mandi pagi, ini perjuangan berat pertama, karena mandi pagi butuh effort yang luar biasa buat saya. “Pakai air dingin biar bersih, kan sunat rasul pengantar kedewasaan” wejangan Pak Wo, “setelah sunat, berarti udah besar, tidak boleh lagi mandi di sungai tanpa “basahan”, sambung beliau. “Rasanya seperti digigit semut, nanti pas Pak Wo minta baca subhanallah, baca ya, satu tarikan nafas”, sambung beliau. Saya pun latihan.

Saya lihat sembunyi-sembunyi, beliau mempersiapkan perlengkapannya, ada jepitan dari papan yang dibuat sedemikian rupa, ada pisau belati kecil yang beliau keluarkan dari sarangnya dan ada bubuk obat “ajaib” dalam botol kecil.

Dan prosesi utama dimulai. Saya merasakan jepitan dingin, menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan deg-degan yang sangat, “baca subhanallah banyak-banyak”, sambil persiapan Pak Wo mengingatkan. Beliau mengambil belati kecil yang sudah disiapkan, saya makin nervous, “tarik nafas tahan sebentar keluarkan dengan menyebut subhanallah ya”, intruksi Pak Wo saya ikuti.

Diujung subhanallah yang intonasi dan desisnya sedikit meninggi karna saya memang dengar sreet dan merasakan sesuatu yang sangat tajam memberikan tekanan ke kulit dan sedikit nyeri, selesailah prosesi kedewasaan saya. Saya masih deg-degan.

“Selesai, tidak sakit kan?” Tanya Pak Wo sambil memberi obat ramuan ajaibnya dan melepas jepitan. “Kalau tiba-tiba merasa nyeri, sebut saja subhanallah banyak-banyak ya” sambung Pak Wo sambil membereskan perlengkapan “tempurnya”, untuk tugas selanjutnya “mendewasakan” sepupu saya Ii Boy.

Mama masuk kamar, saya dibawah selimut yang pas posisi “itu” ditinggikan dengan digantung tali rafia ke loteng. “Tidak sakit kan Bang?” tanya mama dengan senyum-senyum. “Iya ma, tidak sakit, cuma nyeri aja sedikit seperti di gigit semut” jawab saya. Mama melihat hasil “prakarya” Pak Wo dan melanjutkan “sekarang abang udah gede, mandi disungai sudah harus pakai basahan”.

Butuh 3 hari untuk akhirnya saya bisa jalan, pakai sarung dan reunian dengan CS saya Ii Boy sambil taruhan siapa yang bisa lebih dulu pakai celana.

Seminggu setelahnya kami sudah mandi disungai lagi, tentu sudah pakai kain basahan. Kami sudah main volley bola karah lagi, dan yang penting, sudah tidak ada kejepit resleting lagi.

Soka 2, 21 Jun 2020.

 

 

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: