Home > Mama&Nak Bujang > Mama dan nak bujang Part-19: “Mairiak”

Mama dan nak bujang Part-19: “Mairiak”

Mairiak, Foto: Mediaindonesia.com

Mama jadi guru pagi sampai siang, siang sampai sore dan hari libur, mama jadi petani di bantu nenek mengerjakan paling tidak 3 tumpak sawah, dikampung biasa menyebut “tumpak” untuk satu lokasi persawahan, buka mengacu ke luas area, tapi lebih ke lokasi.

Satu di sawah Mudiak, lokasi di Jorong Pangka Pulai, ada 5 petak mungkin, 1 hektaran. Disana juga ada kebun tengan tanah miring, juga 1 hektaran yang ditanam pinang dan kayu manis. Sawah ini berada dipinggir jalan Batu Bajanjang-Pangka Pulai.

Satu lagi Sawah Ilia, (hilir), berlokasi di Jorong Koto Tuo, pas disamping kantor Camat Kecamatan Tigo Lurah, Kab Solok. Ada 3 atau empat petak juga, setengah hektar. Juga ada kebun Suku yang di kelola oleh Penghulu suku, Mamak Kami Darnis Datuak Sari Pado Alam. Banyak pohon manggis dan getah, kebun turun temurun yang posisinya juga dipinggir jalan.

Satu lagi, sawah di Koto Lamo, sedikit 2 petak, yang di olah hanya kalau musim hujan saja, karena tidak ada sumber air diarea ini. Lokasinya ya di atas Sawah Ilia. Mama dan Nenek kami beristirahat terakhir di lokasi ini. Mungkin juga saya dan adik-adik kelak.

Itu tanah turunan suku yang telah dijatahkan untuk nenek kami, turun ke Mama dan saat ini di kelola oleh 2 adik perempuan saya. Semuanya tidak ada sertifikat SHM/HGB, hanya surat girik yang menunjukkan batas-batas tanah yang diketahui oleh nagari dan penghulu-penghulu suku.

Hanya Satu tanah perumahan dan juga ada kebun diatasnya yang memang sudah ada Sertifikat Hak Milik atas nama mama kami, di Jorong Kampuang Tangah, kami menyebutnya rumah ateh, dulu rumah gadang kami disini, cerita sebelumnya saya berlumuran darah di rumah gadang ini. Rumah yang ditempati Mama dan sekarang di rawat adik saya nomor duapun, belum ada SHMnya.

Di Ranah Minang saat ini mungkin satu-satunya daerah di Indonesia yang tanah ulayat/tanah adatnya masih paling luas dan paling terjaga oleh masing-masing suku, belum terjual ke investor dan dikuasai satu atau dua orang atau perusahaan. Tetapi kedepan kalau tidak ada aturan dari pemerintah, bisa menjadi bom waktu permasalahan. RUU tanah ulayat/tanah adat pun sampai saat ini masih terbengkalai di DPR.

Karena mama petani, saya pun sudah sebagai anak petani pun sudah pasti terlibat aktif dalam kegiatan pertanian, mulai dari “marancah”, menyabik sampai “mairiak” padi. Buat saya mairiak ini merupakan waktu yang ditunggu-tunggu.

Mairiak itu bahasa minang, yaitu menepaskan bulir padi dari tangkainya dengan kaki. Padi segenggam di tarok di bawah kaki, tangan berpegang ke pegangan yang sengaja di buat. Kemudian kaki menggerus bulir padi sampai lepas. Dilakukan beramai-ramai oleh kaum lelaki kampung.

Mairiak ini dilakukan bersama-sama, dulu disebutnya berkongsi, ada beberapa orang laki-laki yang nantinya bergantian masing-masing sawah, tidak ada yang dibayar. Cuma tuan rumah menyiapkan konsumsi dan cemilan untuk yang mairiak. Dan itulah daya tarik yang ditunggu-tunggu masa mairiak ini, mama selalu masak enak kalau lagi bawa orang mairiak. Gulai kalio ayam, telor balado, jengkol dan petai, jadi penyemangat untuk selalu hadir. “Palapeh Salero”.

Mairiak kadang dilakukan sampai malam, karena padi tidak bisa lama-lama disawah, harus segera dibawa pulang. Saya pun sering ikut begadang kalau perlu, bahkan sampai tertidur di tumpukan jerami, terbangun setelah mairiak selesai.

Budaya mairiak ini menggambarkan genuinnya gotong-royong di ranah minangkabau. Kebersamaan, bisa dalam sesuku, anak pisang, sumando bahkan antar suku. Ajang untuk saling mengenal dan saling bercengkrama. Juga jadi media untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dan reso dan pareso. Yang ikut mairiak di kita, nanti kita gantian membantu mairiak di tempat teman tersebut, bergantian, saling berkomitmen.

Setelah bulir padi lepas dari tangkai, selanjutnya di tampi, jaman itu sudah ada alat tampi sederhana dari kayu yang di putar tangan. Lebih cepat dari pada sebelumnya di tampi menggunakan alat ayakan sederhana.

Kemudian teknologi dan pengetahuan pengolahan pertania mulai masuk ke kampung, mulai ada mesin perontok gabah yang sudah sekalian dengan tampi, bulir padi sudag keluar bersih tinggal masuk ke dalam karung. Budaya Mairiak ini mulai berkurang dan lambat-lambat menghilang.

Momen Mairiak juga jadi momen tak terlupakan oleh saya dan mama, kadang kalau tertidur di sawah menemani orang mairiak, mama menggendong pulang sampai kerumah, bagun pagi sudah di tempat tidur.

Taekwondo Rusa Yasmin, 20 Dec 20.

Categories: Mama&Nak Bujang
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: