Home > Kata Hati & Jejak Langkah > Aktifitas pemulihan Covid -19

Aktifitas pemulihan Covid -19

Saturasi oksigen

Selama 24 hari isolasi mandiri karena Covid 19, apa saja penanganan pemulihan yang dilakukan?, saya coba berbagi treatment apa saja yang kami sekeluarga lakukan.

Setelah terkonfirmasi positif, yang pertama saya lakukan adalah menginformasikan ke gugus tugas kantor untuk di lakukan tracing siapa saja yang bersinggungan dan bertemu dengan saya seminggu terakhir. Ini prosedur kantor yang nantinya diikuti dengan swab antigen pada setiap contact tracing terebut.

Saya juga lansung menginformasikan ke RT, yang ex-officio sebagai gugus tugas kota Bogor, untuk diinformasikan ke warga, yang juga berkemungkinan kontak erat dengan saya seminggu terakhir. RT/RW melaporkan ke gugus tugas kota dan petugas puskesmas Kedung Badak juga lansung menghubungi saya untuk interview, baik kondisi dan gejala yang saya alami maupun kontak trace saya.

Kamar isolasi juga lansung disiapkan istri, kebetulan saya duluan swab PCR dari istri. Semua keperluan mandi, peralatan konsumsi dan akomodasi disiapkan terpisah dari anggota keluarga yang lain, isolasi.

Saya memulai isolasi secara psikis biasa saja, tetapi memang secara fisik cukup terasa ujiannya. Demam tinggi sampai 7 hari. Seminggu pertama isolasi praktis saya jalani sebagai pasien yang lagi demam, banyak istirahat. Setelah hari ke-7 baru mulai treatment sebagai OTG. Jadi treatmen yang saya lakukan sedikit berbeda antara 9 hari pertama, 5 hari kedua dan 10 hari terakhir masa isolasi.

Aktifitas rutin 10 hari pertama, bangun pagi, shalat subuh, 7 hari pertama setiap wudhuk menggigil tingkat tinggi, kedinginan, padahal suhu tubuh diatas 38 derajat. Berdoa tentunya, gosok gigi, berkumur, kemudian minum Quts Hindi (kayu india) kiriman Ikhlass Foundation, 3 kali sehari, rutin sampai 10 hari. Tentu saja minum obat-obat pereda demam yang dikirim oleh gugus tugas kota Bogor. Makan pisang, 3 kali sehari dan rutin ukur saturasi oksigen dalam darah untuk memastikan tidak perlu perawatan ICU. Juga minum vitamin C dan D. Ganti masker 4 kali dalam sehari.

7 hari pertama praktis lebih banyak istirahat, tidak olah raga dan tidak juga berjemur, karena demam. Kalau berjemur selama isolasi hanya dapat 3 kali, selebihnya tidak ada matahari di Bogor, mungkin ini juga satu faktor yang memperlambat pemulihan.

Hari ke-10, swab PCR ke-2, alhamdulillah menunjukkan perbaikan, dari CT RpDp 12 menjadi 40, tetapi masih positif. Tambah isolasi 5 hari dengan treatmen tambahan, selain semua task 10 hari pertama, mulai pakai terapi minyak kayu putih pada masker, setiap penggantian masker di teteskan minyak kayu putih. Karena mulai batuk, juga minum obat untuk pereda batuk yang di resepkan dokter. Olah raga ringan juga diperbanyak, paling tidak 3 kali sehari untuk mengeluarkan keringat.

Hari ke 15, swab PCR ke-3. Hasilnya masih positif. Psikis mulai sedikit terganggu,selain kebosanan juga merasa tidak cukup treatment yang dilakukan selama 15 hari terakhir.

10 hari terakhir, mulai tambahan tindakan minum kapsul Lianhua yang sebenarnya dari awal postif sudah dikirimkan kantor untuk diminum, cuma untuk menghindari terlalu banyak obat yang di konsumsi, 15 hari pertama saya fokus minum Qust Hindi. Juga mulai berkumur dengan betadin cair dan bilas hidung dengan campuran air dan minyak kayu putih, juga minum susu bear brand. Ini treatment yang banyak disarankan oleh para penyintas covid-19, belum terkonfirmasi secara medis, tapi its work.

Hari ke-24, saya swab PCR lagi dengan istri, alhamdulillah Negatif. Apa pelajaran yang bisa diambil dari 24 hari isolasi, dengan 4 kali swab PCR.?

Untuk percepatan penyembuhan, sebaiknya treatmen yang di lakukan bersamaan dari awal terkonfirmasi positif, pertama beribadah dan berdoa untuk ketenangan bathin perkuat imun, jaga kebersihan, makanan bergizi, berkumur betadine cair, bilas hidung dengan campuran air dan minyak kayu putih, ganti masker 4x sehari atau setiap 4 jam, makan pisang, minum Qust Alhindi, minum Lianhua, minum susu bear brand, olah raga ringan, berjemur, minum vitamin C dan D, serta ukur selalu saturasi oksigen, karena informasi dari dokter, jika saturasi oksigen sudah dibawah 90 harus segera masuk ICU, tidak bisa lagi perawatan dirumah.

Setelah jadi penyintas, apa lagi? Yang pertama dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan paru-paru, tes Torax. Setelahnya tetap harus mengikuti prokes 3M, karena masih ada penyintas covid yang bisa terkena kembali, artinya anti body tidak otomatis terbentuk.

Semoga bermanfaat.

Bogor, 22 Januari 2021

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: