Mama dan nak bujang Part-39: Pak Syafi’i

Gerbang SMP 1 Solok, 2022

Mushalla SMP 1 saat saya kelas 2 ada disamping kantin, bangunan sebelah kanan pertama dari gerbang. Sementara kelas kami 2B, kelas unggulan ada di gedung baru diseberang jalan mushalla ini. Dulu disana ada lapangan basket juga. Setiap zuhur kami harus shalat berjamaah di mushalla, guru yang jadi imam dan yang selalu “menyinyiri” kami Pak Safi’i, guru bahasa inggris atau bahasa indonesia, lupa saya.

Pak Safi’i guru senior, mungkin saat kami kelas dua tinggal 1 atau 2 tahun masa dinas beliau. Rupanya sudah di SMP saat mama dulu juga sekolah disana, mama kenal. Suatu waktu Mama minta saya ingatkan beliau, apakah masih ingat anak batu bajanjang payung sekaki, “bilang gitu aja bang bilang abang cucu beliau”, ya harusnya saya sudah cucu. Karena memang sering bertemu, saya pun sampaikan. “Oh benar, anton rupanya cucu apak, mama satu-satunya dari daerah atas memang” rupanya masih ingat beliau.

Saya punya teman waktu kelas satu, ikhsan, anak kepala rumah sakit yang di Laiang. Sekarang perawat di RS Tentara Padang. Karena “spesial” Pak Safi’i selalu menjadikan dia sebagai pertanda shalat sudah bisa dimulai, badannya memang besar waktu itu, bongsor, jadi jelas terlihat kalau Pak Safi’i meluruskan shaf, “ikhsan sudah?” Beliau selalu bertanya sebelum takbir. Pun setelah shalat, beliau biasanya memanggil Ikhsan untuk memastikan ikut berzikir. Kebiasaan yang berulang ini buat kami dulu kadang jadi bahan “keceriaan”, semua jadi kenal Ikhsan. Tapi rupanya itulah metode yang digunakan Pak Safi’i untuk menanamkan dalam alam bawah sadar kami, Ikhsan saja yang “berat” rajin shalat apalagi kami yang ringan-ringan, kuranv bergizi maksudnya. 😁

Guru mama yang jadi guru saya juga. Seingat saya tidak sempat saya pertemukan dengan mama karena beliau sudah keburu pensiun. Guru yang secara natural memang diingat oleh murid-muridnya, bahkan dari puluhan tahun sejak beliau guru junior. Mungkin perhatian beliau pada muridnya,l dengan cara berulang, seperti yang di lakukan pada Ikhsan, menjadikan memori iti tertanam dalam ingatan muridnya.

Semoga sehat-sehat selalu, kalau Pak Safi’i masih ada atau Alfatihah kalau beliau sudah kembali ke haribanNYA, saya tidak dapat kabar lagi sejak tamat SMP tahun 1996.

BotaniSquare, Bogor, 3 Sep 2022 #ingatPakSafi’i&mama

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s