Mama dan nak bujang Part-42: ditinggal “raun”

“Raun”..

Musim liburan, anak-anak selesai terima raport semester ganjil.

Liburan naik kelas 3 SMP saya ditinggal “raun”. Mama, Opet dan Kori liburan ke Jakarta, sambil melihat uni Deni yang baru di boyong oleh suami ke ibu kota. Saya tidak bisa ikut, ada jadwal perkemahan yang akhirnya kecewa karena juga gagal, akibat kwarcab Solok terlambat memberikan info. Saya balik kampung dengan nenek.

Waktu itu, ke ibu kota Jakarta merupakan angan-angan. Jangankan ibu kota negara, ibu kota provinsi saja kota Padang, rasanya jauh. Saya cuma termenut saat di perlihatkan foto di pantai ancol dan monas, “nanti abang pergi sendiri, tinggal di Jakarta”, sambil merengut saya bilang ke mama, “ni ada oleh-oleh buat abang, dodol garut” hibur mama sambil tersenyum. Ya, dulu, kalau ke jawa tidak bawa dodol garut, berarti zonk. πŸ™‚

Opet dan kori semangat bercerita, mulai dari naik bus gak muntah, nyebrang naik kapal, buat kami orang gunung naik kapal laut pengalaman istimewa. Cerita tentang ramenya Jakarta, ke monas, yang sebelumnya hanya lihat di buku dan majalah “emasnya asli bang” kata mereka, saya makin panas πŸ™‚. Bukan apa-apa, kami dari kecil memang ditanamkan jiwa jalan-jalan, “raun” bahasa minangnya, jadi kalau ditinggal, wah terasa betul nelangsanya, apalagi ini yang pertama mama jalan-jalan tanpa saya, “ya mama ingat abang waktu” hibur mama πŸ™‚.

“Dua hari tiga malam di mobil bang” Opet cerita, “pak wo di periksa polisi karena bawa pisau” lanjutnya, ya Pak Wo Dalim, ayahnya uni Deni, yang nyunat saya, selalu bawa belati kecil kemana-mana. Beliau minta ditemani mama melihat anak gadisnya, begitulah mungkin perasaan seorang bapak, walau bagaimanapun sampai kapanpun, rasa rindu ke anak tak terhalang jarak, walaupun di seberang lautan tetap akan di jelang.

Saya naik kelas 3, Opet adik saya nomor 2 tamat SD dan dapat di MTSn Kota Solok, sekolahnya di samping masjid Agung Almuhsinin, tempat saya latihan kungfu. Kami pindah kos ke depan stasiun, rumah dengan WC terbang πŸ™‚. Saya dekat ke SMP 1, 10 menit naik sepeda, tapi opet bolak balik lumayan jauh naik bendi ke simpang rumbio. Sejak saat itu pula, perjuangan mama berpisah dengan dua anak untuk menggapai cita-cita bermula, kami harus berhemat, makanya rumah kos juga harus yang seefisien mungkin, tak apa-apa walau wc sering mampet, penuh nyamuk, tapi murah. πŸ™‚

Kelas 3 SMP bermula..

Pantai Citepus Palabuhan Ratu, 24 Desember 2022 #liburSemester

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s