Mama dan nak bujang Part-46: berpuisi

Puisi..

Preman..

Bukan pre makan tapi suka makan teman.

Preman..

Bukan pula pre bebas man lelaki, tapi suka bikin rakyat kecil keki

Preman..

Jangan di dor seperti jaman petrus orde baru, tapi jadikanlah kawan baru.

Ya, itu sebagian bait puisi yang teringat, tugas bahasa indonesia kelas 3A SMP, mengarang puisi ceritanya. Karena menarik, teman-teman minta untuk dibacakan, tapi saya tak ada keberanian untuk tampil, “kuncuik”, mleyot untuk tampil didepan umum, akhirnya satu teman, Arsyaf Mursalina sang juara itu dengan penuh “amarah” bantu membacakan puisi karangan saya. Ya, ini puisi terinspirasi kisah nyata pribadi korban perundungan, sekarang dikenal dengan bulliying.

Saya hanya berani bacakan puisi ini di depan mama, “rancak” komen beliau waktu itu.

Di kisah sebelumnya saya pernah cerita jadi korban perundungan dan malah menjadikan “kakak tertua” geng itu jadi teman. Yang namanya saja bisa jadi pelindung saya untuk bisa hidup lebih aman di Kota Solok, kisah itu membekas di hati, makanya jadi puisi. Awal mula jadi pujangga 🙂

Sampai SMP kelas 3 saya masih sangat tidak berani tampil dimuka umum waktu itu, tidak terlalu introvert, karena saya pun bisa berteman walau tentunya dengan yang seulah. Tidak berani untuk mengambil tantangan, hidup lurus sesuai aturan, tidak suka atau lebih tepatnya tidak berani macam-macam. Tapi untungnya saya aktif di ekstakurikuler Pramuka saat itu, sampai kelas tiga yang putera tinggal saya tersisa, mau tidak mau jadi kakak pendamping pelatih menjadi keharusan dan pelan-pelan, karena terpaksa juga, tampil didepan menjadi kakak senior.

Kondisi di SMP bertolak belakang dengan saat SD, selalu atau hampir selalu jadi ketua yang didepan. Kelak saat STM/SLTA pun kembali seperti di SD, menjadi leader. Rendah diri dari awal masuk SMP bisa menjadi penyebab utama. Menjadi rata-rata diantara para juara membuat rasa bangga dan hormat menjadi berkurang. Mungkin juga, bagi seorang introvert jika dia “tercover”, dia akan makin tidak tampak, tapi kalau dia didepan, akan membawa yang terbaik, pernah dengar istilah “lebih baik menjadi kepala cacing dari pada ekor naga”? Mungkin karena itu.

Puisi preman ini menjadi awal  mendapatkan pelajaran, tidak saja dari kisah dibelakang terciptanya, tapi juga menjadi pelajaran bahwa kita seharusnya tidak hanya bisa berkarya, tapi juga harus bisa menjual karya kita dan kita bisa memulai dari rasa bangga dan hormat, pride, terhadap diri sendiri. Kisah ini jugalah yang kelak mendorong saya memilih STM Karya Padang Panjang sebagai lanjutan sekolah, agar pride kembali.

Cianjur, 1 Januari 2024 #berpuisi

Leave a comment