Mama dan nak bujang Part-18: literasi karna mama

Saya mulai bisa membaca kelas 2 SD, kalau dikampung kami itu termasuk sudah luar biasa karena kami tidak menjalani pendidikan pra SD, tidak ada TK dikampung kami tahun 1990an. Bahkan sarana pendidikan hanya sampai SD dan satu-satunya. Sejak bisa membaca, hasrat literasi menggebu dan tak terbendung, syukurnya itu didukung penuh oleh mama dengan mensuplai berbagai…

Mama dan nak bujang Part-17: Pak Mantari

Dikisah-kisah sebelumnya saya beberapa kali menyinggung betapa traumanya saya dengan Pak Mantari, tenaga kesehatan bagi nagari, bukan dokter atau perawat, entahlah posisinya waktu itu apa dalam dunia kesehatan saat ini. Kisah ini berawal saat saya mungkin umur 9 tahunan, belum sunat. Saat itu mulai ada puskesmas di kampung kami, yang jadi fasilitas kesehatan pertama di…

Mama dan nak bujang Part-16: bataguran..

Di kampung saya dulu, mungkin sampai sekarang masih ada , satu kebiasaan yang hampir di percaya oleh sebagian besar warga, termasuk mama saya   yaitu”bataguran” atau “kanai taguran”. Ya, satu kepercayaan mungkin berakar dari animisme dulu, jika kita sakit “orang pintar”akan memeriksa dengan potong ayam jantan hitam kemudian dari situ di diagnosa, “ini kanai taguran di…

Mama dan nak bujang Part-15: “sunat rasul”

Mama kasih dua pilihan, “abang mau sunat sama pak Mantri, disuntik dan dijahit cepat sembuh, atau dengan Pak Wo, agak lama sembuhnya”, waktu itu mama memberi opsi, belum selesai mama menjelaskan saya sudah sambar “Pak Wo ma.. !”, karena begitu traumanya sama pak Mantri dan jarum suntik.

Mama dan nak bujang Part-14: lebaran, “anak bujang buk ilih hilang”.

Kelas 4 SD, lebaran tahun 1991 warga kampung geger, anak bujang buk ilih hilang..!! Itu headline di kancah “ota” mulut kemulut kampung kami hari itu. Berbagai prediksi dan analisa muncul. “Cari dilubuak rukan, mungkin mandi sama kawan-kawan”, “coba tanuang, mana tau dibawa antu aru-aru”, dan berbagai macam hipotesis lainnya dari yang bikin tenang sampai yang…