Praktisi ke Akademik

Sidang tesis pertama angkatan 2021 MP Salemba, 3 semester

Alhamdulillah, Senin, 28 November 2022, bisa mempertanggungjawabkan hasil penelitian tesis di depan pembimbing dan dewan penguji. Ibu Leni Sagita Riantini, ST, MT, Phd., pembimbing satu, Prof. Dr. Ir. Yusuf Latief, MT, pembimbing dua, Dr. Rossy Armyn Machfudiyanto, ST, MT, ketua dewan penguji, Ibu Dr. Ayu Herzanita Yufrizal, ST, MT, anggota dewan penguji yang orang Tikalak, pinggir danau Singkarak, Solok dan Dr. Ir. Afrizal Nursin, MT, yang orang Koto Anau, Solok juga. Mulai dari jam 4 sore selesai pas azan magrib. Tiga semester terasa singkat, 2 semester full online dan baru mix online-offline di semester terakhir.

Proses mentransformasi dari paraktisi ke akademik terasa betul tantangannya. Di tataran praktisi referensinya adalah standar yang berlaku, biasanya satu topik hanya mengacu ke satu standar yang sudah baku. Misalnya untuk pompa sentrifugal di minyak dan gas atau petrochemical pasti menggunakan API 610 sebagai acuan, atau kalaupun diperluas tidak akan keluar dari ANSI/HI untuk dasar performa hidrolik, ISO 9906 untuk performa operasi atau ASME Sec VIII untuk sistem yang bertekanan.

Contoh lain manajemen proyek, akan mengacu ke referensi dari mana pembiayaan proyek tersebut berasal, misalnya pendanaan dari Amerika Serikat, referensi pengelolaan proyek akan menggunakan PMBOK guide dari Project Management Institute (PMI). Atau kalau dari erpoa, acuannya akan ke Excelos, Prince2. Kalau dari dana APBN akan mengacu ke IAMPI atau PII, yang juga mix dari dua referensi di atas.

Di tataran praktisi ada acuan yang strict, yang baku, tanpa kita perlu tau asalnya, karena sudah pasti melewati proses akademik dan empirik yang sudah terbukti kesahihannya. Berbeda dengan akademik, di UI sendiri untuk satu topik tesis, minimal harus mengutip dan mengambil state of the art minimal dari 25 jurnal luar negeri, yang cocok dengan penelitian, biasanya itu juga tidak cukup, penelitian saya mengacu lebih dari 100 referensi, hanya untuk satu topik : durasi.

Tantangan mengubah main set dari praktisi yang empirik, yang fisiknya ada terlihat, terbukti, kepada akademik yang menggali ada apa dibalik terjadinya empirik tersebut, dengan proses yang terstruktur, logis dan realistis. Dengan data yang homogen bisa dipertanggung jawabkan, dengan metode yang realibilitasnya terbukti, langkah demi langkah, sesuai dengan proses penelitian dan kerangka konsep yang sudah di susun untuk membuktikan hipotesa yang diajukan di awal. Tidak bisa lompat ke konklusi sebelum pertanyaan-pertanyaan penelitian benar-benar terjawab satu demi satu. Buat saya yang puluhan tahun di praktisi, proses itu terasa menantang.

Tapi Alhamdulillah berkat bimbingan Prof Yusuf, yang saya kagum benar kemampuan fokus beliau ke satu demi satu mahasiswa bimbingannya, ada puluhan dalam semester ini, termasuk saya. Serta bimbingan dari Bu Leni, yang juga fokus terhadap cara penulisan yang benar, konten yang harus saling terkait serta tidak ada informasi terputus yang mengakibatkan pemahaman pembaca menjadi bias dan pesan beliau yang selalu teringat “laporan tesis ini bukan hanya bisa dipahami oleh yang menulis, tapi harus bisa dipahami oleh orang yang bahkan tidak pernah tau topik tesis ini”. 1000 halaman lebih, jadi juga tesis ini.

Dan sekarang, setelah dijalani,  dunia akademik ini terasa menarik, mengutip Prof Yusuf, “tesis ini adalah latihan penelitian, kalau mau jadi peneliti sesungguhnya ya disertasi”. Insya Allah Prof. 😌.

DTS UI Depok, 28 November 2022 #tesis #praktisiToAkademik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s