Dia yang mempesona..

18 tahun lalu awal mata bertatapan, dan berlalu 18 tahun setelahnya. Dia tetaplah dia yang mempesona. Pesona itu dari mata turun ke relung dalam dada, naik ke kepala, bolak balik akhirnya.. sampai ke hadapan ayahandanya…😊 Tentu, proses menjadi terpesona tidaklah semelankonis seperti kisah romeo dan juliet..laila dan majnun,.. mungkin seujung kuku kisah Ainun dan Habibie…

Se Dasawarsa..

Sudah telat sebulan sebernarnya, 27 Juni 2018 itu pas Pilkada serentak.. lupa karna hiruk pikuk, sekalian dilewatkan 😊.. Sekali lagi cincin emas putih dijarinya itu mengingatkan, tulisannya masih rapi 26062008, walau warna cincinnya sudah tidak sementereng sedasawarsa sebelumnya.. Ya, se-dasawarsa sudah, 2008-2018. Kalau dihitung menit dan detik sudah sangat banyak, tapi kalau ditanya rasa dalam…

Layaknya Ainun..

Semakin matang dan semakin mendalam hujamnya kedalam jiwa layaknya Ainun bagi Habibie. Dia yang dulu gadis pujian banyak pujaan, kini menjelma jadi wanita matang penenang dan pelindung hati  2 lelaki dan 2 wanita di istananya. Waktu untuk itu sebentar saja rasanya..

Hampir satu dasawarsa perjalanan ini…

ini tentang perjalanan kami berdua.. hampir satu dasawarsa.. Saya tidak mau lagi merumpamakan kebersamaan karna Illah ini bagai sebuah kapal, karna kalau di kapal mabuk, disebabkan gelombang dilautan maka tiada tempat untuk menepi dulu.. ☺, padahal mual dan mabuk adalah bunga dan tanda bahwa kebersamaan ini dalam perjalanan… Dalam suasana mudik, cocoklah analogi perjalanan ini…

Bertambah dalam duka..

Benar-benar lupa, terfokus pada menyelesaikan semua urusan mendiang mama dan persiapan hari bahagia maminya anak-anak. Hari ini 28 Januari, tahun berulang untuk muhasabah diri bagi sang tercinta, tahun ini sungguh luar biasa, berulang dalam suasana duka dan juga bahagia yang di mix jadi satu. “Kesedihan dan kebahagiaan satu tikar”..kata orang tua-tua kampung..