Kelas 2 SMP, bergabung dengan para juara, tertinggal dua “tiang”, ini istilah balapan jalanan, maksudnya ketinggalan 2 tiang listrik, kalau jarak tiang listrik 25 m, ya ketinggalan 50 meter dan itu jauh. Karna itu saya secara sadar harus bisa menempatkan diri, bergabung pada rombongan depan atau pasrah tetap ketinggalan gerbong. Kelas kami waktu itu khusus…
Category: Mama&Nak Bujang
pengobat rindu..
Mama dan nak bujang Part-30: naik kelas 2
Satu tahun tingkat pertama SMP berlalu dengan aktif mengikuti, baik kegiatan belajar mengajar maupun ekstra kurikuler. Gendong tangan 2 bulan ke sekolah karena bahu bergeser tidak menyurutkan semangat untuk tetap bersinergi. Menabung selama 9 bulan pun sudah memperlihatkan hasil, bisa beli sepeda BMX bekas balapan, 70 ribu. Ya, waktu itu lomba BMX cross lagi viral…
Mama dan nak bujang Part-29: pramuka SMP
Mama pembina Pramuka, ingat cerita sebelumnya yang saya jatuh dari pohon manggis dan bahu bergeser? Saat itu mama lagi ikut Kursus Pembina tingkat Dasar (KPD) di Koto Baru, Solok. Saya pun sudah aktif Pramuka dari SD, mulai tingkat siaga mula, siaga bantu dan siaga tata. Masuk SMP, kegiatan extrakurikuler yang pertama kali saya mendaftar adalah…
Mama dan nak bujang Part-28: setrika cara nenek
Di kontrakan baru samping Kasda Motor, nenek sering menemani saya. Masa-masa rehat ke sawah nenek pasti ke Solok. Sebenarnya rutin setiap bulan nenek turun gunung, karena mengambil pensiun Angku memang harus di BTPN Solok. Masuk semester ke 2 kelas satu di SMP 1 Solok, saya mulai ikut banyak kegiatan, selain aktif di Pramuka yang latihan…
Mama dan nak bujang Part-27: berburu “kapindiang”
Kontrakan baru, cerita baru. Karena didekat rel kereta api, penyesuaian terhadap riuhnya bunyi roda besi beradu rel jadi perjuangan tersendiri. Awalnya saat kereta lewat selalu berdebar-debar, apalagi kalau malam pasti terbangun, takut kalau kepala kereta masuk dapur. Apalagi nenek, karena tidak biasa sering terlonjak sendiri, kaget saat klakson kereta berbunyi. Tapi lama kelamaan jadi simphony…