Mama dan nak bujang Part-20: “Mairiak”

Mama jadi guru pagi sampai siang, siang sampai sore dan hari libur, mama jadi petani di bantu nenek mengerjakan paling tidak 3 tumpak sawah, dikampung biasa menyebut “tumpak” untuk satu lokasi persawahan, buka mengacu ke luas area, tapi lebih ke lokasi. Satu di sawah Mudiak, lokasi di Jorong Pangka Pulai, ada 5 petak mungkin, 1…

9 tahun, Si Melodi

Melodi, itu panggilan kiasan untuk anak ke-2 kami. Faiqoh, mamanya kadang memanggil si lembut melakonis ini, itu kata dasar nama yang kami sematkan sebagai doa, Feyka. Vietkong adik laki satu-satunya menyebut kalau lagi kesal, dia memang bahagia sekali kalau melihat si Bujang kami berkerut mukanya karna dia ganggu, rese. Saya Yandanya kadang panggil dia “Mak…

5 tahun dalam pandemik, tiba-tiba Kribo

Kepala bocor 11 Nov lalu, katanya kepeleset kening terbentur batu pas ditempat yang sama dengan bekas luka terbentur pintu beberapa tahun lalu, hadiah tambah umur yang “berdarah-darah” buat bujang kami. Pulang kerumah dengan muka penuh darah sambil meraung-raung, bikin uni-uninya cemas. Yang mengherankan, tiba-tiba dari 2 bulan lalu rambut doi berubah jadi kribo full, padahal…

Covid belum berlalu

Euforia berkumpul, jalan-jalan dan kembali macetnya tol Bogor-Jakarta seperti mempertegas bahwa Covid “sepertinya” sudah berlalu di Indonesia, khusunya Jabodetabek, ditengah setiap hari Menkes masih melaporkan masih tingginya yang terinfeksi harian, walaupun report DKI sudah mulai melandai, cuma sayangnya jumlah infeksi berkurang data menunjukkan jumlah tes juga berkurang. Linear. Faktanya, covid terus mendekat. Senin minggu ini,…

Mama dan nak bujang Part-19: Globalisasi

Tahun 80an arus globalisasi terasa kuat di Indonesia, hal itu bisa terlihat dari gaya hidup waktu itu, foto-foto dan budaya orang tua kami, terutama mama menambah keyakinan akan itu. Dari pakaian misalnya, beberapa foto mama dan papa waktu muda memperlihatkan penampilan yang global, papa banyak befoto dengan celana pantovel, baju bersanding licin, rapi. Juga suka…